Ini Startup Indonesia yang Gagal, Belajar dari Kesalahannya

Baru baru ini aku dikejutkan oleh kabar bahwa salah satu adik kelasku semasa SMA kini mulai membangun startup. Aku turut berbangga dan bahagia atas pencapainnya tersebut. Startup yang ia bangun tersebut berjalan dibidang pendidikan khususnya sebuah platform belajar dan latihan soal cpns. Menurutku idenya tersebut sangat bagus sekali, dengan timing yang tepat dimana saat ini jutaan orang di Indonesia yang akan menempuh ujian cpns atau kini di sebut dengan casn.


Hal tersebut membuat aku kepikiran, mungkin ada suatu ide bisnis yang bisa aku jalankan dengan memanfaatkan teknologi. Mungkin tampaknya seperti ikut-ikutan tren, namun bisnis memang seperti itu setiap orang pasti punya ide yang mungkin mirip, namun berbeda saat eksekusinya. Semakin cepat ia eksekusi maka kemungkinan berhasil akan semakin besar, karena menjadi inisiator dibidangnya.

startup indonesia yang gagal


Mungkin sebagian dari para pembaca sering mendengar atau membaca tentang kisah sukses para pendiri startup, sebut saja Gojek, Tokopedia, Bukalapak, dan Traveloka. Mereka adalah 4 besar startup yang sukses di indonesia satu diantaranya bergelar Decacorn dan tiga lainnya Unicorn. Kalian tahu mana yang sudah berstatus Decacorn? Yups, kamu benar saat ini Gojek masih memegang satu satunya startup decacorn asal Indonesia dengan nilai value sebesar 10 milyar dollar AS. Keren banget bukan…

5 Startup Indonesia yang Gagal

Begitu pesatnya perkembangan teknologi ini lah yang melatarbelakangi pertumbuhan startup baik di Indonesia maupun di dunia. Namun tahukah kamu, ada startup yang sukses ada pula yang gagal sehingga harus gulung tikar. Nah untuk menambah wawasan kalian berikut ini beberapa daftar perusahaan startup indonesia yang gagal.


Qlapa

Dari website, aplikasi serta media sosial Qlapa, hal pertama yang akan kamu jumpai adalah salam perpisahan dari pihak Qlapa. Karena memang kini Qlapa sudah berhenti beroperasi dan terpaksa pamit dengan pengguna setia mereka. Kabarnya mereka tutup total yang artinya tidak kapanpun tidak akan ada layanan dari Qlapa. Mungkin banyak yang belum tahu kalau Qlapa merupakan startup di bidang e-commerce yang mempertemukan pengrajin dan calon pembeli secara langsung melaluo aplikasi. Dimana semua hasil kerajinan tangan tersebut benar-benar barang handmade.

Padahal konsep yang mereka tawar cukup unik dan berbeda. Mereka kalah persaingan dengan kompetitor sejenis. Yang memaksanya harus berhenti mulai tahun 2019 lalu.

Meskipun dalam tahun 2019 sempat mendapatkan beberapa penghargaan dari Forbes, namun, nyatanya hal tersebut tidak menjanjikan.


Tokobagus

Kala itu Tokobagus cukup populer di Indonesia, bahkan iklan mereka cukup memorable di ingatanku. Tokobagus beroperasi di tahun 2005 dengan konsep situs jual beli online. Bisa dibilang mereka merupakan pioner dalam pertumbuhan e-commerce di Indonesia. Fitur yang paling aku ingat dari situs ini yaitu jual beli barang bekas.

Sebenarnya mereka tidak sepenuhnya gagal, karena mereka salah saing dengan e-commerce lokal lainnya di Indonesia. Puncak kejayaan mereka yaitu saat pengunjung sudah mencapai 1 milyar di tahun 2012. Sejak di akuisisi oleh Naspers karena pencapaian gemilang tersebut. Toko bagus berganti nama menjadi OLX Indonesia yang rupanya tidak mendapatkan banyak perhatian. Situs ini akhirnya juga kalah saing dengan e-commerce lokal di Indonesia.


Paraplou

Situs e-commerce yang berfokus pada produk fashion ini berdiri sejak tahun 2011. Perusahaan mereka mendapatkan investasi dari Majuven bernilai sekitar US$1,5. Mendapat investasi besar rupanya tak menjamin membuatnya bertahan lama. Perusahaan ini resmi ditutup pada tahun 2015. Kesulitan dana yang berkesinambungan serta faktor pasar diduga menjadi alasan mereka harus tutup.


Uber

Perusahaan startup yang bergerak di bidang transportasi ini merupakan kompetitor Gojek dan Grab. Mungkin sebagian dari kalian baru menyadari jika Uber sudah  tak lagi beroperasi di Indonesia. Padahal mereka punya pasar di negara asia lainnya selain Indonesia. Namun startup merupakan terbesar kedua di seluruh dunia ini harus hengkang di awal 2018. Bukan hanya di Indonesia, beberapa negara Asia pun turut.


Valadoo

Startup yang berdiri tahun 2011 ini fokus pada situs e-commerce-nya yangi bergerak di bidang perjalanan wisata. Valadoo belum mampu untuk memiliki arah bisnis yang jelas meski sempat mendapatkan pendanaan dari Wego yang berasal dari Singapura. 

Kabarnya perusaan ini sempat merger bersama Buruflt, namun di tahun 2015 valadoo resti mundur dan menutup semua layananannya


Apa yang kami sampaikan kali ini semoga menjadi pelajaran berharga buat teman-teman yang juga ingin membangun startup. Karena bisa saja startup yang katanya raksasa saja bisa tumbang. Jadi harus punya jiwa yang kuat saat membangun startup dan pengelolaan yang tepat. Di Indonesia sendiri ada loh program yang bisa membantu startup baru agar kuat bertahan. Untuk itu buat kamu yang punya bisnis startup sangat disarankan untuk tahu dan mengikuti berbagai program startup yang ada di indonesia.

Karena tren akan terus berkembang di tambah dinamika bisnis yang sangat fluktuatif. Tetap kuat dan jangan ragu untuk terus berinovasi!

Wahyu Eko Cahyanto hanya blogger pemula yang suka desain, matematika dan korea

Belum ada Komentar untuk "Ini Startup Indonesia yang Gagal, Belajar dari Kesalahannya"

Posting Komentar

Maaf, komentar dengan link aktif akan saya hapus.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel